Halaman
Jumat, 15 November 2013
KIRA-KIRA SEPERTI INI...
Diposting oleh Yu Matara di 08.53
Mataku terasa
lengket karena lelah. Ini sungguh tak adil. Materi biologi baru saja hanya 1/8
dari separuhnya yang kubaca. Kau bisa bayangkan, itu kuantitas yang teramat
kecil.
Aku mulai duduk
menghadap Asus, lepi nanggung yang kupikir saat ini adalah satu-satunya benda
paling berharga yang kupunya. Aku mengharapkan sebuah selingan untuk menyegarkan
kembali mata yang ‘lelah’. Lihatlah, jari-jariku mulai cekatan menekan tombol
navigasi yang ada di keyboard qwerty si Asus. Ada rasa bersalah yang terlintas,
namun tak banyak jika kau ingin tahu.
Computer --> DATA (D:) --> GENERAL -->
Ulma Unique --> Literatures -->
E-Books --> KUMPULAN NOVEL -->
Lord of the Ring -->…
Ada banyak subfolder, semua terstruktur. Tidak
sulit untuk mencari berkas-berkas yang kau butuhkan di ‘Asus’ kesayanganku ini.
Jemariku
menggantung, hanya tinggal menekan satu klik saja Fellowship of the Ring dengan format pdf terbuka. Fantasiku bisa
berlanjut kembali. Namun semua terasa lebih berat dari biasanya. Perasaan
bersalah yang ‘tak banyak’ di awal tadi malah berkoloni membentuk gumpalan awan
mendung tepat di atas kepalaku. Siap menghujani dengan tampungan rasa bersalah
yang sudah semakin berat dikandung.
Tiba-tiba dua
sosok mungil mulai berusaha menyembulkan kepalanya dari balik ‘awan kesalahan’
itu. Mereka terlihat kepayahan. Sepertinya ini terlalu naïf. Tapi, biarlah
kubagi sedikit. Betapa liarnya fantasiku saat ini.
Kedua sosok
mungil itu mirip sekali denganku. Jika inert
fantasymu sudah mulai dapat diajak kompromi, kau boleh membayangkan.
Sosok-sosok mungil itu seukuran dengan jari telunjukmu ditambah 1 inci (well, kukira itu relatif). Mereka
awalnya mulai berdebat, menggunakan bahasa yang sama sekali tak kumengerti.
Bahasa peri, bisa jadi. Tunggu, kau menyimak kata peri, kawan? Well, ada sedikit gambaran yang
setidaknya harus kau pahami.
Di sisi kanan
bagian atas kepalaku, sosok mungil yang menyembul dari balik awan adalah sosok
yang anggun. Kau bisa bayangkan, ia mengenakan gaun putih dengan mahkota bundar
di atas kepalanya. Sepasang sayap ala malaikatpun ikut bertengger di balik
punggungnya. Dengan kostum norak seperti itu membuatnya terlihat lebih
kepayahan daripada si mungil yang berada di sebelah kiriku ketika berusaha
menyembulkan kepalanya dari balik awan. Mahkotanya hampir saja menggelinding,
beberapa helai bulu putih sayapnya juga ikut tergerus hingga mengenai kelopak
mata kananku.
Lain lagi
halnya dengan si kiri, ia lebih sederhana tampaknya. Hanya mengenakan pakaian
serba merah dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan… sepasang tanduk lambang evil di ujung kepala.
Mereka masih
berdebat.
Butuh sedikit
kesabaran…
Aku menunggu…
Masih…
Dan akhirnya…
“STOP! Kumohon,
berhentilah…” aku menyentak, mereka terkejut. Menyadari respon yang mulai tak
menyenangkan, dengan sepasang mata yang tak lepas memandangku mereka mulai
melangkah menuju bahuku. Duduk.
“Bicaralah… dan
katakan, apa yang kalian inginkan?” lanjutku kesal.
“Kau hendak
membaca novel itu lagi? Fellowship of the
Ring?” si merah mengambil kesempatan pertama untuk memulai pembicaraan
denganku.
“Apa
masalahmu?” tanyaku menantang.
“Putar balik
navigasinya, harusnya sejak awal kau arahkan ke main folder ‘SCHOOL’, bukan ‘GENERAL’. Biologi menantimu…” si merah
berkata bijak. Aku justru terkejut mendengarnya. Kupikir negasi dari pernyataan
bijak seharusnya lebih wajar ia lontarkan.
“Dasar
munafik!!! Itu kata-kataku! Kau bajak skenarioku…” si putih berdiri dari bahu
kananku dan mulai menumpahkan emosinya dengan menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah
si merah. Sedangkan yang dihujat hanya tersenyum santai menanggapi si putih, ia
semakin menunjukkan kesan bijaknya.
“Percayalah,
semua ini tidak seperti yang kau bayangkan. Ada maksud jahat yang tersembunyi
di balik bijak yang kau pandang!” si putih berkata dengan berbisik sambil
memeluk pipiku, yang kubisa hanya melirik aneh ke sosok yang satu ini. “Percayalah…”
ia memelas sekali lagi.
“Dengarkan
kata-kataku, pastikan jalanmu benar, kau sungguh takkan menyesal!” si merah
kembali melancarkan x-missionnya. Ia
sungguh lihai, ucapan-ucapan sihirnya yang extremely
soft membuatku semakin mudah menerima sugestinya.
Tak disangka,
sosok mungil anggun bersayap itu seketika berlaku anarkis. Ia bergegas
menghampiri si merah lalu segera menarik tanduk evilmiliknya. Mereka saling berangkulan, mencoba beradu posisi memperebutkan
kemenangan. Memandang mereka dalam perseteruan fisik ternyata lebih kunikmati.
Ini menarik. Menyaksikan harmoni warna yang seharusnya bersatu malah berseteru.
Persis seperti yang terjadi dewasa ini. Hubungan dengan bangsa lain jalin
melalui persahabatan, dengan bangsa sendiri melalui permusuhan. Merah dan putih
bukannya dijadikan berdampingan, malah dijadikan perselisihan. Sungguh
menggelikan!
“Lepaskan,
bodoh! Sakit tauu..” tanduk kiri si merah masih tertarik kuat oleh tangan si
putih.
“Karena
tandukmu ini yang telah mentransmisikan sugesti yang berlawanan dengan
kata-kata zahirmu, inilah harga yang harus kau bayar! Uugghh…” si putih berkata
sembari tetap menarik tanduk kiri si merah.
“Biarkan aku
menghasut dengan caraku sendiri! Sisi jahat mengarahkan ke perbuatan baik belum
ada ditemukan, maka akulah pencetusnya!”
“Tapi itu jelas
melawan kode etik penghasutan! Kau curang! Kau tetap curang!”
“Sekali lagi,
dengarkan! Biarkan aku dengan caraku. Dan biarkan hasil akhir yang menentukan..
jangan terlalu diambil pusinglaah..”
“Baiklah kalau
begitu. Kita lihat saja hasil akhir nanti…”
Untuk ke sekian
kali, aku menyaksikan mereka saling menghujat dalam debat. Masih dengan bahasa
mereka yang tak sepenuhnya terdefinisi. Samar-samar terdengar olehku mereka
menyebut-nyebut tentang ‘sugesti’ dan ‘kode etik’. Semua itu membuatku semakin
sulit untuk menentukan siapa sebenarnya yang protagonis di antara mereka.
“Cukup, kawan!
Terimakasih untuk perdebatan sekaligus nasihat kalian hari ini. sekarang,
kalian bisa kembali… silakan!” aku mengakhiri perjumpaan dengan dua makhluk
kecil yang sebelumnya sudah kukatakan, sangat mirip denganku. Segera saja si
putih berlari kecil mendekatiku dan berbisik tepat di daun telinga kananku,
“Tetapkan hatimu, kawan. Jika kau benar-benar mendengar apa yang dikatakan si
merah di awal, maka semua itu memang benar adanya. Tapi kau tetap harus
berhati-hati, kau bisa saja melakukan hal yang berbalik karenanya,” maka
kubalas pesan si putih dengan senyum ringan saja. Kubiarkan ia beranjak naik
kembali menuju awan yang sejak awal tadi berada di atas kepalaku. Kembali, ia
terlihat semakin kepayahan dengan kostum malaikat yang ia kenakan. Setelah
berhasil mencapai puncak awan, si putih kembali berpaling padaku dan berkata,
“Lain kali, kau bisa merancang kostum yang lebih ringan untukku.” Melihat
ekspresi datar yang mengiringi ucapannya membuatku terpaksa harus menahan tawa
geli karenanya. Kemudian ia dan si merahpun segera menghilang dari balik awan.
Bersamaan dengan itu pula awan mendung yang berkoloni di atas kepalaku seketika
berubah cerah dan menghilang hanya dengan sekali kedipan.
Setelah itu, menurutmu
apa yang terjadi?
Cerdiknya si
merah. Dengan sengaja mengarahkanku menuju perbuatan yang lebih utama,
sedangkan ia jelas tahu bahwa manusia malah cenderung melakukan perbuatan yang
kurang utama meskipun telah dinasihatkan sebelumnya. Dengan bahasa yang sedikit
berbeda, bahwa manusia cenderung melanggar nasihat, manusia cenderung melawan
peraturan, manusia cenderung melakukan sesuatu yang dilarang.
Dengan rasa
bersalah yang kembali menyurut, tanpa ragu kujatuhkan pilihan untuk menekan
tombol Enter pada tuts keyboard.
--> Fellowship of the Ring
OPENED!
Mari, lanjutkan
membaca novel! :D
Usaha di UH 2 yang lebih maksimal
Disertai dengan selingan yang kelewat maksimal
Sebuah hobi yang tiada pernah mencapai titik marginal
Godaan Saat Belajar Biologi untuk
Try Out
Kamis, 14 November 2013
Senin, 28 Oktober 2013
Why Do Cats Can See in the Dark?
Diposting oleh Yu Matara di 14.19
There are some
reasons why cat can see well even in the dark. It’s because of tapetum lucidum
behind the retina, more elastic pupils, and large amount of rod cells.
Tapetum
lucidum is a mirror that sits behind the retina of cats. Its function is to
reflect back the light that enters the retina, so the retina will receive much
more light. The light passes the retina twice. After passing it for the second
time, so the light’s passed on pupils,
and the light’s emitted back to the eyes. This causes the cats eyes glowing
when receive the light in low intensity. This ability of reflecting the light
can improve the night vision of the cat (in the dark).
Do you know?
Pupils in the cats eyes has an ability to dilate three times greater than
humans. When it receives a little light, it will dilate till almost 90% of the
eyes so that makes the eyes are esier to catch the light. On the contrary, when
the pupils receive much more light it will get small and soon change into a
small vertical line. Those are what make the cats can see well in the dark.
Photoreceptors
contained in retina also support the cat’s exceptional ability. Retina contains
more cells that are sensitive to the light stimulus which is called as rod
cells, than the cone cells which are sensitive to the color stimulus. Rod cells
will help the retina to respond the light more.
To download the presentation file, click Download.
To download the presentation file, click Download.
Jumat, 02 Agustus 2013
Terkait Tugas TIK
Diposting oleh Yu Matara di 01.18Padahal baru bikin kartu nama dengan desain paling sederhana, tapi itu aja udah bikin keringat jatuh segede biji jagung. Inilah karya perdana seorang desainer pemula seperti penulis:
Ini terkait THR (Tugas Hari Raya) mata pelajaran TIK. Harus bikin kartu nama dengan desain mandiri.
Untuk karya yang lebih menarik, mohon sarannya yah... Jangan lupa komennya sobat!
Minggu, 03 Februari 2013
KONTROVERSI MENGENAI EKSISTENSI NABI KHIDIR A.S.
Diposting oleh Yu Matara di 09.00
Kumulai tulisan ini dengan nama Allah, bismillah... :)
Setelah selesai baca novel karya Wiwid Prasetyo beberapa
menit yang lalu dengan judul Khidir,
gua jadi terobsesi dan pengen tau lebih jauh tentang keberadaan Nabi Khidir as.
Ada yang mengatakan beliau masih hidup hingga saat ini, ada juga yang
membantah. Kesimpulan yang gua dapet dari novelnya Wiwid Prasetyo bahwa
pendapat yang menyatakan keberadaan Khidir hingga saat ini sebenarnya merupakan
bohong besar yang tidak kuat hujjah-nya.
Nabi Khidir a.s. adalah seorang manusia biasa yang juga mengalami kematian dan
tentu saja orang yang telah meninggal dunia itu hubungannya terputus sama
sekali dengan dunia.
Di sisi lain, guru fahmul qur’an gua di sekolah percaya
bahwa Nabi Khidir a.s. masih hidup dan menjadi penguasa di lautan hingga saat
ini. Beliau dapat mengubah wujudnya sendiri menjadi siapa saja. Namun, dengan
satu ciri khas yang tidak bisa ditutupi adalah ibu jari yang dimiliki oleh
Khidir tidak bertulang dan lemas. Demikian penjelasan yang gua dapet dari
beliau (guru fahmul qur’an) dan sayangnya, tidak disebutkan dalil-dalil yang
mendukung pernyataan beliau tersebut.
Awalnya informasi tentang kekekalan Nabi Khidir a.s. itu
sendiri gua yakini mentah-mentah setelah dijelaskan oleh pak guru dan seperti
tidak menimbulkan semacam tarikan magnet apapun untuk mendalami kebenaran dari
kisah Khidir tersebut. Tapi setelah gua (kebetulan) nemuin novel fiksi yang
sedikit banyak mengulas tentang keberadaan Khidir dalam dunia spiritual manusia
masa kini (benar/tidaknya), gua jadi tertarik untuk mengkaji masalah ini lebih
dalam. Ehm...dan sepertinya, gua kurang yakin dengan pernyataan bahwa Nabi
Khidir a.s. masih hidup. Ini menurut dalil-dalil dari al-qur’an dan hadits yang
gua yakini. Coba deh, kaji dalil di bawah ini:
“Kami tidak menjadikan
hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad) ; maka jikalau
kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’ : 34)
Dalil di atas tentu ga perlu ditanyakan lagi mengenai keshahihannya
karena berasal dari Al-Qur’an yang mutlak kebenarannya. Jika Allah swt saja
telah berfirman seperti demikian, lalu siapa lagi yang mampu menyangkalnya?
Dengan kata lain, ayat di atas telah menunjukkan bukti yang jelas kepada kita
bahwa Nabi Khidir a.s. yang diyakini oleh sebagian orang sebagai manusia yang
kekal keberadaannya hingga hari kiamat adalah berita yang tidak benar adanya.
Ada lagi bantahan mengenai anggapan bahwa Nabi Khidir a.s. masih
hidup hingga saat ini. Silakan kaji sabda Rasulullah saw di bawah ini:
Diriwayatkan oleh
‘Umar ibn al Khattab, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat
kaum Musyrikin yang berjumlah 1000 orang sedangkan para sahabatnya hanya
berjumlah 3 ratus belasan orang. Maka Nabi saw. menghadap kiblat kemudian
mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa
yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah
Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah,
apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada
yang menyembah Engkau di bumi ini”. Beliau cukup lama memanjatkan doa
kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tangannya sehingga selendangnya
terjatuh dari kedua pundaknya. Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil
selendangnya kemudian meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu
memeluknya dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah
permohonanmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia
janjikan kepadamu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah),
ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmidzi).
Udah dibaca? Pahami kembali kalimat yang menyatakan, ‘Ya
Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan
ada yang menyembah Engkau di bumi ini’.Secara logika, jika memang benar Khidir masih hidup hingga saat
ini dan tentunya melewati zaman nabi-nabi sesudah Nabi Musa a.s. termasuk juga hidup
di zaman Rasulullah saw tentu tidak mungkin Rasulullah saw akan berdoa dengan
kalimat seperti itu.
Beberapa ulama seperti Imam al Bukhari, Ibrahim al Harbi,
Abu Ja’far ibn al Munadi, Abu Ya’la ibn Farra’ dan beberapa yang lain juga
berpendapat bahwa Nabi Khidir as telah wafat.
Untuk lebih jelas dan lengkapnya silakan lihat di sumber referensinya:
Untuk lebih jelas dan lengkapnya silakan lihat di sumber referensinya:
Kamis, 17 Januari 2013
The Nicest Song
Diposting oleh Yu Matara di 23.58
Against all Odds
How can I just let you walk away?
Just let you leave without a trace
When I stand here taking every
breath with you, ooh
You're the only one who really knew
me at all
How can you just walk away from me
When all I can do is watch you
leave?
'Cause we've shared the laughter and
the pain
And even shared the tears
You're the only one who really knew
me at all
So take a look at me now
So take a look at me now
'Cause there's just an empty space
There's nothing left here to remind
me
Just the memory of your face
So take a look at me now
And there's just an empty space
And you coming back to me is against
the odds
And that's what I've got to face
I wish I could just make you turn
around
Turn around and see me cry
There's so much I need to say to you
So many reasons why
You're the only one who really knew
me at all
So take a look at me now
Well, there's just an empty space
And there's nothing left here to
remind me
Just the memory of your face
So take a look at me now
'Cause there's just an empty space
But to wait for you is all I can do
And that's what I've got to face
Take a good look at me now
Take a good look at me now
'Cause I'll still be standing here
And you coming back to me is against
all odds
And it's the chance I've got to take
Chance I've got to take, got to take
Take a look at me now
Take a look at me now
Take a look at me now
Take a look at me now
Selasa, 14 Agustus 2012
Antara Dunia Remaja dengan Dunia Dewasa
Diposting oleh Yu Matara di 03.07
Dunia remaja yang kita miliki memang terasing dan seperti
tidak pernah butuh untuk intervensi dari orang-orang dewasa di sekitar kita.
Seperti terutama oleh parents yang
terkadang terkesan (maaf) cerewet
dengan berbagai nasihat dan petuah-petuah yang sebenarnya memiliki satu makna
namun sering kali dibahasakan dengan cara yang berbeda nan membosankan, yaitu
bagaimana caranya agar kita dapat menjadi seseorang yang lebih dari mereka
sebelumnya.
Sering kali nasihat-nasihat yang beliau-beliau utarakan
melolos melalui telinga kiri. Tak ayal kita anggap juga sebagai sampah. Bagaimana bisa?
Masih sebagai remaja yang meskipun memiliki dunia sendiri
yang terisolasi dari dunia dewasa, however
pernah juga kita miliki rasa untuk ingin didengar, bahkan oleh our own parents. Orang-orang dewasa
sebetulnya hanya ingin memaksakan kehendak mereka sendiri, alih-alih demi
kebaikan anak. Namun, apa pernah mereka tanyakan apa yang sebenarnya anak-anak
mereka ingin lakukan untuk hidup mereka?
Teringat dengan sebuah kisah seorang anak dengan berbagai
prestasi yang bahkan dengan itu semua tidak pernah ia rasakan bagaimana menjadi
the second di kelas. Namun dibalik
itu semua, apa yang ia rasakan?
Memiliki perasaan tertekan bertahun-tahun itu tidak mudah ia
rasakan. Selalu menjadi yang pertama di kelas itu ternyata bukanlah hal yang
selalu ia inginkan. Ia harus merasakan gugup luar biasa ketika sang guru
berdiri di depan kelas dengan tumpukan buku laporan siswa per semester. Apa
yang akan ia lakukan ketika tidak lagi memegang gelar the first di kelas?
Memang sepenuhnya bukanlah berasal dari kesalahan orang
dewasa semata. Hanya saja gelar bahwa sang dewasa selalu memegang kendali dan
ingin didengar sudah banyak kita dengar, dan hati nurani kita ‘yang remaja’ sebetulnya terkadang
kebanyakan menyalahkan. Apa yang
sebenarnya terjadi? They just didn’t
really know how to express their love. Bukan harus sepenuhnya menyalahkan
mereka dan kita sendiri yang selalu ingin dimengerti. Solusi sederhana yang saya
tawarkan: mempelajari bagaimana caranya agar antara dunia remaja dengan dunia
dewasa memiliki jembatan untuk saling memahami meski terpisah.
Gimana menurut kalian? Leave a comment .. :)
·
Senin, 14 Mei 2012
Persepsi Mengenai Persahabatan
Diposting oleh Yu Matara di 00.30
Persahabatan sesaat mungkin tak bermakna...
Namun, ketika sang waktu lantas menegur, “Hari ini hanya
untuk sekarang, tidakkah kau ingin membekaskan sejarah yang setidaknya dapat
dikenang sebagai prasasti yang terukir di atas hati orang-orang yang sempat
singgah dalam memori hidupmu kali ini?”
![]() |
| Me and my Trully Friends ETERNAL |
Renungkan dan pikirkan, apa yang dapat kamu perbuat untuk
mereka. Jangan hidup untuk hari ini hanya sebagai fatamorgana...
Pembaca yang setia, kali ini penulis ingin bertanya,
bagaimana persepsi anda mengenai sahabat di masa global seperti ini? Tetap
seperti pepatah-pepatah lama yang mengatakan Persahabatan lebih berharga daripada cinta? Atau mungkin Teman yang sesungguhnya adalah teman yang
membuatmu menangis, bukan yang membuatmu tertawa? Yang mana nih...
Di masa global yang seperti ini, ada banyak penyimpangan mengenai
persepsi tentang sahabat. Bahkan, ada yang pernah dengar ga modifikasi dari salah
satu pepatah mengatakan bahwa Cinta lebih
berharga daripada persahabatan. Wah... gimana tuh? Apa Wise Words versi baru tu mencerminkan tipe wajah-wajah manusia
(para remaja) abad kini?
Berbicara mengenai sahabat, dari penulis pribadi memang
merasa sedikit naif. Tapi, persahabatan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Makna dari sebuah persahabatan sejati tak akan pernah pudar sepanjang masa.
Namun, sering kali kita tak mengetahui bahkan memahami implementasi dari
persahabatan itu sendiri.
Memiliki sebuah persahabatan itu memang hal yang bisa
dikatakan biasa sekali, sederhana, bahkan remeh jika dipandang oleh orang-orang
yang tidak pernah mengalami dan bahkan memilih untuk tidak pernah peduli dan
memaknainya ketika mereka memiliki kesempatan untuk itu. Namun dapat menjadi
hal yang luar biasa ketika seseorang merasa seperti hidup sendiri, berdiri
tanpa sandaran, kemudian datang seseorang yang dengan tulus mengatakan, “Jangan
takut, aku yang akan menemanimu sampai akhir...”
Jika hal itu benar-benar terjadi kepada diri anda,
kemudian bagaimana persepsi baru anda mengenai persahabatan?
Subscribe to:
Postingan (Atom)





.jpg)
