Sabtu, 02 Agustus 2014

No Title (Temporary)

Setelah beberapa lama terlelap dalam bunga tidurnya, akhirnya gadis itu terbangun dengan mata yang masih berat untuk membuka dengan sempurna. Masih merasa nyaman dengan selimut yang membungkus tubuhnya, membuat rasa enggan semakin kuat menahannya untuk bangkit dari kasurnya yang empuk. Astagfirullah, aku kan belum shalat isya', batinnya. Ia pun berusaha bangkit melepaskan ikatan setan yang menumpukkan ribuan kemalasan sebagai selimut nyamannya.
Usai menunaikan shalat fardhu, ia menjamah ponsel yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Lantas ia langsung membuka akun facebook, dengan mengharapkan paling tidak ada seuntai kata yang dikirim untuknya melalui pesan. Ya, mengharapkan seuntai kata terkirim dari seseorang yang ia kasihi selama ini.
Namun seperti biasa, ia menahan diri untuk berharap. Ia tak ingin harapannya terhempas sia-sia. Itu akan membuatnya semakin sakit. Padahal bukanlah sesuatu yang besar jika ia ingin mendapatkan pesan dari kekasihnya. Tapi begitulah. Ia selalu merasa berdiri di atas pengabaian sang kekasih. Bagaimana tidak? Terkadang pesan terakhirnya ditangguhkan begitu saja, padahal titik hijau yang menandakan pengguna dalam keadaan online masih menyala.
Jemarinya mengetuk-ngetuk lantai mengikuti irama search engine yang mulai memproses tautan messages.
Tak sampai menghabiskan satu menit untuk menyelesaikan prosesnya, akhirnya tautan itupun menampakkan 'isi' nya. Nihil. Yang ada hanya pesan biasa dari dua orang temannya, Aiebiem dan Andry. Ia menghela napas. Ternyata benar, kali ini harapannya kembali berakhir sia-sia.
Adakah aku bersikap terlalu kekanak-kanakan? Tanyanya dalam hati. Konyol sekali, padahal ia sendiri tahu bahwa tidak akan ada jawaban yang membantu atas pertanyaan yang tak terkatakan. Namun pertanyaan itu sudah cukup menggambarkan perasaan bersalahnya. Ia merasa bersalah karena keinginan hatinya sendiri yang selalu ingin mendapat perhatian. Seharusnya ia dapat mengerti bahwa kekasihnya sekarang bukan lagi anak SMA. Kini ia adalah seorang mahasiswa yang tentunya memiliki kepentingan yang jauh lebih banyak dan dirinya.. tentulah bukan prioritas yang pantas untuk diutamakan. Namun sebetulnya, gadis itu memiliki kepekaan yang tak kalian duga. Bukannya ia tak mengerti, sungguh ia sangat mengerti. Lantas apa yang perlu dipermasalahkan?
Hatinya. Hatinyalah yang sulit dikendalikan. Tak pernah sebelumnya ia merasa hatinya diuji begitu berat seperti yang ia rasakan saat ini.
Ia mampu mengendalikan hati dengan mendekatkan diri kepada Rabbnya. Begitulah ia selalu berusaha mengobati hatinya yang terluka. Namun ketika ia tergerak membuka facebook, sederet aktivitas yang dilakukan oleh kekasihnya yang bermunculan di beranda, membuat pertahanan hatinya hancur berkeping-keping. Ia menyadari betapa sekarang kekasihnya begitu sibuk dengan tugas-tugas kampusnya, dengan teman-teman satu kampusnya, dengan sahabat-sahabat sejurusannya. Pantas saja dirinya menjadi tak lebih penting dari itu semua.
Terkadang hal itu membuatnya merasa bahwa facebook seakan-akan menjadi phobia baginya. Ia takut tak bisa menahan diri karena menyadari bahwa kekasihnya sekarang begitu sibuk. Beberapa waktu lalu ia bahkan menangis. Menangis karena merasa bahwa kini ia benar-benar diabaikan. Ia mendapati sang kekasih dengan sebuah nametag yang diunggah dengan menandai teman-temannya, teman-teman satu kampus tentunya. Ini adalah kali pertama ia menangis. Tergugu ia hingga membuat tubuhnya bergetar. Mungkin karena terlalu banyak memendam. Kali ini ia merasa tak sanggup menahan gejolak perasaan yang semakin menyiksa.
Inilah yang ia tuliskan dalam secarik e-paper, beberapa saat sebelum pertahanannya terbukti merapuh: "Ingin kulepas tangis, namun tertahan oleh ego. Dalam kesendirian saja aku masih mampu bertopeng, merasa diri paling kuat, menahan buncahan perasaan yang ingin segera menumpahkan air mata. Aku tergugu dalam hati. Sendiri. Tanpa ada yang mengerti, dan tak akan kupaksakan siapa saja untuk mengerti. Jangan segera tanyakan apa yang terjadi. Karena aku sendiri masih butuh beberapa lama untuk memahami. Memahami bagaimana menangani diriku sendiri.
This night, I have just deactivated my facebook account. Mengapa? Mudah sekali menjawabnya. Karena aku selalu merasa diabaikan. Aku selalu merasa tak lebih penting dari kawan-kawannya, sahabat-sahabatnya. Entahlah. Jarang terdengar sapaan meski ia sendiri sedang online. Lihatlah, sifat childish ini begitu menyiksaku. Tapi, kau tahu? Harapan kosongku mungkin lebih besar dari egoku, harapan kosong itulah yang mendorongku untuk mengaktifkan akunku kembali.
Betapa saat ini dirimu adalah ujian terberat bagiku. Tak pernah sebelumnya hatiku diuji segini beratnya. Ya Rabbi.. Bagaimana aku harus kembali membangun pertahanan yang lebih kuat, pertahanan yang mampu membantuku tampak biasa menanggapi apa yang terjadi?
Beberapa waktu lalu ia menandaiku dalam sebuah catatannya yang berjudul 'Blogger Yang Kembali'. Aku tersenyum membacanya di tengah perasaan yang tak ku mengerti, lagi. Sekejap terlintas ingatan tentang blog yang dulu pernah kami buat bersama. Tak dapat kutemukan tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa ia masih mengingatnya. Yang tertulis dalam catatan itu hanya alamat blog pribadi kesayangannya." Ia mengakhiri tulisannya. Pikirannya kini tak dapat ditebak siapapun juga. Ia memejamkan mata sembari membiarkan pikirannya terbebas menjelajah ke manapun ia suka.
Tanpa sadar, ia mulai berucap lirih, "Ingin kucurahkan semuanya di sini, tanpa mampu berharap lebih untuk dapat kau pahami."
***

0 kicauan:

Posting Komentar