Rabu, 22 Oktober 2014

Halangi 'INGIN' Menemani Harimu

Malu kalau mengingat diri ini masih menginginkan ini dan itu, padahal yang ada sudah cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan. Sejatinya insan memang selalu ingin lebih, padahal ia tahu jika keinginan itu terus dipelihara ia akan menjadi sakit sendiri. Karena keinginan manusia tidak pernah sampai pada titik pemberhentian. Seperti bilangan real, yang besarnya mencapai tak hingga. Selalu ada bilangan yang lebih besar dari yang kita anggap paling besar. Selalu ada ingin yang lebih besar meskipun kita sudah memiliki yang sekebutuhan saja. Bukan berarti sebuah pelarangan jika kita menginginkan sesuatu yang lebih. Selama masih mampu untuk memenuhinya, dan mengetahui timbangan manfaatnya lebih berat dari mudharat, tidak ada yang salah.

"Aku sudah dewasa, bisa mengendalikan diri untuk tidak tergoda dengan 'ingin' yang melebihi kebutuhan, apalagi yang belum bisa kupenuhi sendiri," INGINNYA bisa ngomong seperti itu. Tapi setiap kali mendengar kawan-kawan berucap; 'Aku bahagia karena punya gadget baru', 'Aku bahagia karena sekarang tinggal di rumah mewah', 'Aku bahagia karena punya motor baru', 'Aku bahagia karena...!@#!#$%'  'ingin' itu terkadang muncul lagi, hehe.
Malulah jika hati kecil berbisik untuk bertanya, "Lantas kapan bahagianya karena Allah?". Seperti tersudut sendiri. Ya Allah, aku sedang belajar. Bekalilah aku dengan qonaah, merasa cukup untuk sekebutuhanku saja. :)
Aku ingin selalu bahagia karena mensyukuri setiap pemberian-Mu. Bahagia akan dapat kuperoleh di manapun dan dengan apapun yang kupunya, jika dan hanya jika aku dalam keadaan selalu mengingat nikmat-Mu yang tak berhingga. Aku sedang berusaha untuk itu.

***
Ini, hasil tarikan nafas yang dalam beberapa kali. Rangkaian kalimat yang sederhana namun InsyaAllah bermakna. Semoga dapat memotivasiku dan memotivasimu, siapapun dirimu yang membaca tulisanku.

Jika mendengar ungkapan seperti itu, jangan merasa minder karena tak punya seperti apa yang membuat mereka bahagia. Apa yang membuat mereka bahagia belum tentu menjadi tolok ukur kebahagiaan kita. Patrikan nama Allah selalu agar kita memiliki alasan untuk bahagia. Bahagiamu, bahagiaku, adalah bahagia karena Allah. Ingatlah bahwa kita selalu memiliki Dia yang selalu mengaliri setiap tarikan nafas kita dengan nikmat yang hanya butuh penghambaan sebagai balasan.

Maka dari itu mulai sekarang yuk belajar qonaah, dan halangi 'ingin' menemani harimu... :)

Ya Rabb, jaga setiap tingkah laku maupun lisanku agar tidak sampai menyinggung saudaraku yang lain.

Ya Rabb, aku akan memperbaiki ibadahku.

Minggu, 12 Oktober 2014

Rindu Ilahi



Puisi indah ini membuat iman kian merekah. Puisi indah yang mengawali senandung rindu seorang hamba kepada Illahnya. Puisi ini, semoga dapat menjadi pupuk kerinduan di sepertiga malam. Semoga dapat menimbulkan penyesalan bagi yang melewatkan sujud di tengah temaram. Puisi ini, kutulis ulang dari kalimat untaian indah Dawai Hati, untukmu, sahabat… dan sebarkan untuk mukmin dan mukminah yang sedang merindu. Merindu akan kehadiran Sang Illah di lubuk hati yang terdalam. 

Sahabat, maka ini dia puisi indah itu. Bacalah, dan resapi dengan hati…

Bismillahirrahmanirrahim…

Duhai sahabat, ada semai nada menggugah jiwa

Nada itu adalah firman-Nya yang tiada bertepi dan tiada meragukan hati

Kini dawai hati mulai bersemi lewat senandung indah penggugah jiwa

Harapan, terhujam dalam desir desah diri, agar kidung ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jiwa

Bila saja kerinduan hati pada Ilahi dan Rasul-Nya terpaut dalam butir-butir niat sukma

Maka itu adalah azzam yang tiada tara terteduh dalam fitrah jiwa

Batin ini menjerit memohon ampunan Ilahi atas titik-titik noda dan busa-busa cinta dunia yang hanyut dalam derai derita jiwa

Ingin hati ini menghapus noda hitam dalam qolbu

Mengubahnya menjadi qolbu yang bening dan penuh cinta

Duhai Rabbi, bimbing diri ini menuju cinta-Mu, menggapai mahligai mahabbah Rasul-Mu

Jadikan getar-getar kidung ini terpatri dalam diri siapapun yang mampu menitiskannya dalam guratan qolbu

Duhai Rabbi, ingin kami  memiliki rasa rindu tak terperi akan cinta-Mu

Rindu yang menghanyutkan qolbu untuk selalu mengingat-Mu

Bilakah rindu ini berlabuh dalam pantai kasih-Mu

Sahabat, mari kita renungkan setiap syair kerinduan dawai hati

Semoga rindu kita pada Ilahi semakin dalam dan tak terkalahkan dari rasa rindu terhadap makhluk-Nya

***
Rindu Ilahi

Oleh: Dawai Hati


Rindu hatiku pada-Mu Robbi
Ingin ku berjumpa dengan-Mu
Apakah amal dan nista diri
Belenggu bertemu dengan-Mu

Adakah rindu dekat dengan-Mu
Penentram batin jiwaku
Rindu hati ku pada Mu Robbi
Ingin ku berjumpa dengan-Mu
Apakah amal dan nista diri
Belenggu bertemu dengan-Mu

Adakah rindu dekat dengan-Mu
Penentram batin jiwaku

Rindu, rindu, rindu pada Ilahi
Rindu hati ini pada-Mu Robbi
Tiadalah yang dapat menandingi
Segala puja kuasa-Mu Robbi

Ampunkan segala dosa dan nista
Yang tersembunyi atau yang nyata
Pada siapa lagi kami meminta
Selain Engkau yang kuasa

Ubahlah nista jadi mulia
Ubahlah dosa jadi maghfirah
Lindungi hamba dari segala
Berkata dusta dan nista

Rindu hatiku pada-Mu Robbi
Ingin ku berjumpa dengan-Mu
Apakah amal dan nista diri
Belenggu bertemu dengan-Mu
Adakah rindu dekat dengan-Mu
Penentram batin jiwaku

Rindu, rindu, rindu pada Ilahi
Rindu hati ini pada-Mu Robbi
Tiadalah yang dapat menandingi
Segala puja kuasa-Mu Robbi

Ampunkan sgala dosa dan nista
Yang tersembunyi atau yang nyata
Pada siapa lagi kami meminta
Selain Engkau yang kuasa

Rindu, rindu, rindu pada Ilahi
Rindu hati ini pada-Mu Robbi

Kamis, 02 Oktober 2014

Ghirah Fiddin



 Ghirah jika diartikan dalam bahasa Indonesia sering kali disebut sebagai gairah. Secara keseluruhan maka ghirah fiddin adalah gairah atau semangat dalam menuntut ilmu agama. Dua ulama besar Islam yakni Imam Ghazali dan Imam Zarnuji memiliki klasifikasi sendiri dalam hal ilmu. Imam Ghazali membagi ilmu ke dalam 3 bagian secara umum, yaitu; ilmu tauhid, syariah dan akhlaq. Begitu juga dengan Imam Zarnuji, beliau mengelompokkan ilmu ke dalam 3 bagian besar yang sedikit berbeda dengan Imam Ghazali, yaitu; ilmu tauhid, fiqih dan akhlaq.
Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menuntut ilmu, seperti yang disabdakan Rasulullah saw di dalam sebuah hadits yang artinya:
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR. Bukhari).
Ilmu diibaratkan seperti pohon dan ibadah (adalah pengamalan dari ilmu itu sendiri) sebagai buahnya. Ilmu jika tidak diamalkan tidak akan ada gunanya. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya diibaratkan seperti orang Yahudi. Dan orang yang beramal tetapi tidak didasari dengan ilmu diibaratkan seperti orang Nasrani. Sedangkan orang mukmin memiliki keduanya, yaitu ilmu dan pengamalannya.
Imam Zarnuji menyebutkan bahwa ilmu utama yang menjadi dasar yang harus kita pelajari disebut dengan ilmul haal, yaitu ilmu yang mewajibkan kita melakukan ibadah fardu ‘ain.
Imam Ghazali pernah mengatakan:
“Semua manusia akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Orang-orang yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang ikhlas pun dalam bahaya jika mereka tidak dapat menjaga keikhlasannya.”
Dari kalimat di atas dapat disimpulkan bahwa betapa mulianya orang-orang yang ikhlas serta dapat menjaga keikhlasannya.
Hasan Al-Basri mengatakan: teruslah mencari ilmu tanpa harus melupakan ibadah, dan teruslah beribadah tanpa melupakan pentingnya mencari ilmu.
Dalam kalimat hikmah di atas dapat dipetik suatu kesimpulan bahwa ilmu dan ibadah adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan tanpa saling melepas satu sama lain. Namun jika suatu keadaan mengharuskan kita untuk memilih, manakah yang lebih utama, ilmu atau ibadah?
Imam Ghazali menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu itu lebih penting. Karena dengan ilmu kita bisa beribadah dengan baik dan benar. Dengan ilmu kita dapat mengenal Allah lebih dekat. Karena dengan ilmu semangat dalam beribadah dapat bertambah, dengan ilmu kita dapat meningkatkan nilai ibadah.
Ada beberapa syarat dalam menuntut ilmu yang harus diperhatikan, yang pertama yaitu harus didasari dengan niat yang ikhlas, harus didampingi oleh guru, prioritas, sabar dan tawakkal. Untuk syarat keempat yaitu sabar, Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengelompokkannya ke dalam 3 bagian; sabar dalam menghadapi maksiat (menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan), sabar dalam ketaatan kepada Allah swt dan sabar dalam menerima ujian dari Allah swt.
***
Sekian ringkasan singkat untuk kuliah FORSALAMM sesi ketiga. Mohon maaf atas segala kekurangan maupun kesalahan baik dalam pemaknaan maupun penulisan. Silakan meninggalkan jejak untuk memberi komentar, tanggapan, kritik, saran atau yang lainnya. Jazakumullahu khairan.

Rabu, 06 Agustus 2014

I am Learning

Matanya terlihat sembab. Bukan sembab karena air mata. Tapi karena air minum. Sejak beberapa menit yang lalu air minum yang ia letakkan di atas meja di samping komputernya telah ia alih fungsikan menjadi cairan penangkal kantuk, bukan lagi pengusir dehidrasi.
"Hoaaamm.." Kimya menguap lebar demi melihat artikel yang sedang dikerjakannya masih kurang dari tiga ratus kata. Nyamuk-nyamuk di sekitarnya bahkan sempat hilang kendali akibat udara yang keluar deras dari mulutnya. Sekali lagi Kimya mencelupkan ibu jari dan telunjuknya ke dalam gelas yang menampung 'air minum'nya, dan kini hanya tertinggal sepertiga gelas saja.
Tuk.
Kepalanya terantuk cukup keras di layar monitor komputernya. Lantas ia kembali tersadar, mengatur jemarinya yang kian bergeser dari tuts keyboard agar sesuai dengan kaidah pengetikan sepuluh jari yang seharusnya. Deadline yang akan berakhir beberapa jam lagi membuatnya berusaha sekuat tenaga untuk melawan kantuk yang hebat.
Tiba-tiba saja Kimya merasakan massa tubuhnya berkurang secara perlahan, namun pasti. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, bahkan ia tak mampu menghalaunya agar berhenti. Kimya melayang. Ataukah hanya 'merasa' melayang? Apakah ini ulah angin malam yang ingin menerbangkannya hingga terdampar di suatu tempat yang tak dapat ia prediksi?
***
Tidak ada yang tahu bagaimana Kimya sampai di tempat berkabut ini. Tempat berkabut yang secara berangsur-angsur mulai menipis dan akhirnya menjelma menjadi sebuah taman yang mirip dengan taman di belakang rumahnya. Di tengah taman itu terdapat satu bangku panjang. Bukan bangku panjang seperti bangku yang biasa terdapat di sekolah dasar tempatnya dulu. Ini bangku yang benar-benar panjang. Jika kau tetapkan satu langkah berjalan selebar 35 sentimeter, maka untuk mencapai ujung bangku yang satu dengan ujung bangku yang lain membutuhkan kurang lebih sebanyak 28 langkah. Bisa kau bayangkan dan pikirkan sendiri, pernahkah kau melihat bangku sepanjang itu?
Saat ini semua yang Kimya lihat dan rasakan terasa aneh. Bahkan ia sama sekali tidak terkejut mendapati seseorang yang amat ia kenal duduk di ujung bangku sebelah kanan. Ia pun berjalan mendekat, lantas duduk di ujung bangku sebelah kiri.
"Pernah cerita tentang masalah yang sekarang?" Tanpa basa-basi, Indra, lelaki yang duduk di ujung bangku sebelah kanan itu melontarkan pertanyaan yang belum sepenuhnya Kimya pahami.
Apa? Masalah? Apakah maksudmu hubungan kita saat ini sedang bermasalah? Kimya bertanya dalam hati.
"Masalah apa?" Kimya balik bertanya dengan raut keheranan.
"Ya ini..."
"Ini..? Apa Ndra?"
"Bahwa aku sudah tidak perhatian lagi,"
"Aku cuma cerita sama sahabatku, itupun tumben.."
"..."
Percakapan itu mendadak terhenti. Hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Entah apa yang terpikir oleh Indra setelah mendengar jawaban terakhir dari Kimya. Kimya hanya mampu membalas sunyi dengan sunyi. Ia lalu bergumam dalam hati, "Diamnya apakah berarti ia menyesalkan betapa lemahnya diriku? Diamnya apakah berarti sebuah pertanyaan yang terlontar mengapa aku tidak bisa menjelma menjadi seperti sosoknya yang kuat, tak pernah menceritakan masalah pribadi kepada sahabatnya sekalipun? Diamnya apakah berarti pertanda bahwa tindakanku salah? Adakah aku telah melakukan satu kesalahan jika sekali-sekali menumpahkan beban yang teramat berat kurasakan dengan menceritakannya kepada sahabat yang paling ku percaya?
Kalau begitu, maafkanlah... aku sedang belajar, I am learning. Aku sedang belajar untuk menjadi sosok yang benar-benar kuat. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran atas berbagai permasalahan hidup yang kualami, yang kujalani. Jangan kira ini adalah sesuatu yang mudah. Ini tidak mudah, ini teramat sulit bagiku. Maaf, Indra.
Jika sekarang kau menghilang lagi, bagaimana aku menjawab pertanyaanku sendiri yang selalu mengatakan 'kau di mana?' ? Apa kau selalu sibuk dengan kuliahmu, hingga aku salah kira dengan menganggapmu tidak memiliki perhatian lagi? Aku tentu salah jik..."
***
"...Apa kau selalu sibuk dengan kuliahmu, hingga aku salah kira dengan menganggapmu tidak perhatian lagi? Aku tentu salah jik...aaargh.. Ini apaan sih?" Kimya terbangun setelah merasakan dinginnya sepertiga sisa air minum yang digunakan Mira untuk mengguyur wajahnya.
"Sorry..sorry.. habis kamu dibangunin susah banget sih, jadi aku guyur aja pake ini," Mira berkata sambil menunjukkan gelas yang masih berada di genggamannya.
"Lagian ngapain sih pake bangun-bangunin segala?" Kimya berkata kesal sambil mengusap wajahnya.
"Niatku baik lo Kim, itu, artikel buat tugas ospek besok belum selesai dikerjain.."
Kimya menoleh ke arah monitor komputernya, dan ternyata benar, artikel yang ditulisnya belum mencapai jumlah kata minimal yang disyaratkan. Tulisannya hampir mencapai satu halaman ukuran A4, disebabkan karena tombol 'm' yang ditekan terlalu lama. Menjadikan paragraf terakhir penuh dengan berpuluh-puluh huruf 'm'.
"Ya ampuun..." Kimya berkata sembari menepuk jidatnya. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Aneh banget.."
"Kamu kalo ngigo puitis ya?" Kata Mira.
"Hah? Ngigo? Puitis? Maksudnya?"
Mira lalu dengan singkat menjelaskan apa yang dikatakan Kimya tanpa sadar. Kimya tak habis pikir bagaimana ia bisa melontarkan kata-katanya hingga ke dunia nyata, padahal itupun diucapkannya dalam hati, di dalam mimpi tentunya.
"Ternyata aku yang aneh ya.." Kimya berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Cerita ke sahabat aku pikir ga ada salahnya kok Kim.."
"Kok kamu malah nyambung ke sana lagi Mir,"
Tanpa menghiraukan pertanyaan Kimya, Mira pun melanjutkan, "Yang salah itu, cerita privasi ke orang-orang yang belum tentu bisa dipercaya. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran? Itu memang harus, Kim. Tapi dengan menceritakan masalahmu ke sahabat, bukan berarti melupakan Allah sebagai Yang Maha Pemurah dalam memberi pertolongan. Kamu tahu bagaimana bertindak ketika benar-benar merasa sempit karena satu beban?"
"Gimana?"
"Lari ke Allah dulu, dekatkan diri untuk meminta pertolongan dan ketenangan. Barulah setelah itu kamu boleh membagi masalahmu dengan sahabat untuk meminta saran maupun pertimbangan, itupun jika kau rasa perlu. Jangan sampai terbalik untuk lebih mengutamakan sahabat sebagai tempat mengadu daripada Rabb sendiri. Gimana? Kamu bisa tangkap maksudku?"
Kimya hanya menjawab dengan anggukan lemahnya saja. Bagaimanapun juga, ia tetap ingin belajar untuk mandiri dan lebih kuat dalam menghadapi masalahnya sendiri, dan bersedia berbagi hanya dengan Rabbnya.
***

°°Long bench = Long distance

Sabtu, 02 Agustus 2014

No Title (Temporary)

Setelah beberapa lama terlelap dalam bunga tidurnya, akhirnya gadis itu terbangun dengan mata yang masih berat untuk membuka dengan sempurna. Masih merasa nyaman dengan selimut yang membungkus tubuhnya, membuat rasa enggan semakin kuat menahannya untuk bangkit dari kasurnya yang empuk. Astagfirullah, aku kan belum shalat isya', batinnya. Ia pun berusaha bangkit melepaskan ikatan setan yang menumpukkan ribuan kemalasan sebagai selimut nyamannya.
Usai menunaikan shalat fardhu, ia menjamah ponsel yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Lantas ia langsung membuka akun facebook, dengan mengharapkan paling tidak ada seuntai kata yang dikirim untuknya melalui pesan. Ya, mengharapkan seuntai kata terkirim dari seseorang yang ia kasihi selama ini.
Namun seperti biasa, ia menahan diri untuk berharap. Ia tak ingin harapannya terhempas sia-sia. Itu akan membuatnya semakin sakit. Padahal bukanlah sesuatu yang besar jika ia ingin mendapatkan pesan dari kekasihnya. Tapi begitulah. Ia selalu merasa berdiri di atas pengabaian sang kekasih. Bagaimana tidak? Terkadang pesan terakhirnya ditangguhkan begitu saja, padahal titik hijau yang menandakan pengguna dalam keadaan online masih menyala.
Jemarinya mengetuk-ngetuk lantai mengikuti irama search engine yang mulai memproses tautan messages.
Tak sampai menghabiskan satu menit untuk menyelesaikan prosesnya, akhirnya tautan itupun menampakkan 'isi' nya. Nihil. Yang ada hanya pesan biasa dari dua orang temannya, Aiebiem dan Andry. Ia menghela napas. Ternyata benar, kali ini harapannya kembali berakhir sia-sia.
Adakah aku bersikap terlalu kekanak-kanakan? Tanyanya dalam hati. Konyol sekali, padahal ia sendiri tahu bahwa tidak akan ada jawaban yang membantu atas pertanyaan yang tak terkatakan. Namun pertanyaan itu sudah cukup menggambarkan perasaan bersalahnya. Ia merasa bersalah karena keinginan hatinya sendiri yang selalu ingin mendapat perhatian. Seharusnya ia dapat mengerti bahwa kekasihnya sekarang bukan lagi anak SMA. Kini ia adalah seorang mahasiswa yang tentunya memiliki kepentingan yang jauh lebih banyak dan dirinya.. tentulah bukan prioritas yang pantas untuk diutamakan. Namun sebetulnya, gadis itu memiliki kepekaan yang tak kalian duga. Bukannya ia tak mengerti, sungguh ia sangat mengerti. Lantas apa yang perlu dipermasalahkan?
Hatinya. Hatinyalah yang sulit dikendalikan. Tak pernah sebelumnya ia merasa hatinya diuji begitu berat seperti yang ia rasakan saat ini.
Ia mampu mengendalikan hati dengan mendekatkan diri kepada Rabbnya. Begitulah ia selalu berusaha mengobati hatinya yang terluka. Namun ketika ia tergerak membuka facebook, sederet aktivitas yang dilakukan oleh kekasihnya yang bermunculan di beranda, membuat pertahanan hatinya hancur berkeping-keping. Ia menyadari betapa sekarang kekasihnya begitu sibuk dengan tugas-tugas kampusnya, dengan teman-teman satu kampusnya, dengan sahabat-sahabat sejurusannya. Pantas saja dirinya menjadi tak lebih penting dari itu semua.
Terkadang hal itu membuatnya merasa bahwa facebook seakan-akan menjadi phobia baginya. Ia takut tak bisa menahan diri karena menyadari bahwa kekasihnya sekarang begitu sibuk. Beberapa waktu lalu ia bahkan menangis. Menangis karena merasa bahwa kini ia benar-benar diabaikan. Ia mendapati sang kekasih dengan sebuah nametag yang diunggah dengan menandai teman-temannya, teman-teman satu kampus tentunya. Ini adalah kali pertama ia menangis. Tergugu ia hingga membuat tubuhnya bergetar. Mungkin karena terlalu banyak memendam. Kali ini ia merasa tak sanggup menahan gejolak perasaan yang semakin menyiksa.
Inilah yang ia tuliskan dalam secarik e-paper, beberapa saat sebelum pertahanannya terbukti merapuh: "Ingin kulepas tangis, namun tertahan oleh ego. Dalam kesendirian saja aku masih mampu bertopeng, merasa diri paling kuat, menahan buncahan perasaan yang ingin segera menumpahkan air mata. Aku tergugu dalam hati. Sendiri. Tanpa ada yang mengerti, dan tak akan kupaksakan siapa saja untuk mengerti. Jangan segera tanyakan apa yang terjadi. Karena aku sendiri masih butuh beberapa lama untuk memahami. Memahami bagaimana menangani diriku sendiri.
This night, I have just deactivated my facebook account. Mengapa? Mudah sekali menjawabnya. Karena aku selalu merasa diabaikan. Aku selalu merasa tak lebih penting dari kawan-kawannya, sahabat-sahabatnya. Entahlah. Jarang terdengar sapaan meski ia sendiri sedang online. Lihatlah, sifat childish ini begitu menyiksaku. Tapi, kau tahu? Harapan kosongku mungkin lebih besar dari egoku, harapan kosong itulah yang mendorongku untuk mengaktifkan akunku kembali.
Betapa saat ini dirimu adalah ujian terberat bagiku. Tak pernah sebelumnya hatiku diuji segini beratnya. Ya Rabbi.. Bagaimana aku harus kembali membangun pertahanan yang lebih kuat, pertahanan yang mampu membantuku tampak biasa menanggapi apa yang terjadi?
Beberapa waktu lalu ia menandaiku dalam sebuah catatannya yang berjudul 'Blogger Yang Kembali'. Aku tersenyum membacanya di tengah perasaan yang tak ku mengerti, lagi. Sekejap terlintas ingatan tentang blog yang dulu pernah kami buat bersama. Tak dapat kutemukan tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa ia masih mengingatnya. Yang tertulis dalam catatan itu hanya alamat blog pribadi kesayangannya." Ia mengakhiri tulisannya. Pikirannya kini tak dapat ditebak siapapun juga. Ia memejamkan mata sembari membiarkan pikirannya terbebas menjelajah ke manapun ia suka.
Tanpa sadar, ia mulai berucap lirih, "Ingin kucurahkan semuanya di sini, tanpa mampu berharap lebih untuk dapat kau pahami."
***

Kamis, 13 Maret 2014

Allah, Aku Datang Mengadu...


Di saat-saat seperti ini, kurasakan duniaku tak lebih luas dari bentangan tanganku sendiri. Duniaku tak lebih ramai dari kota mati sekalipun. Rasakan berada di tempatku berdiri, maka kau hanya akan menemukan rasa sempit dan sepi. Adalah hal yang mungkin sama dapat kau rasakan ketika tak ada satu orang pun yang kau temukan berdiri persis di tempat yang sama denganmu. Tak ada seorang pun yang ingin memijak bumi yang sama seperti yang kau pijak sekarang, bahkan orang-orang terdekatmu.

Ecoutez mon couer, yang berbisik dan rapuh.

Allah (s.w.t.), aku datang mengadu…
Segala yang kulakukan, hanyalah sebentuk dari berbagai bentuk usaha yang mampu kulakukan untuk tetap lurus berada di jalan-Mu. Biarkan orang-orang menatapku hina karena satu prinsip yang mereka tak mungkin mengerti. Biarkan prinsip itu menjadi satu-satunya bumi yang ingin kupijak. Inilah pilihanku yang amat naif dalam anggapan mereka.

Allah (s.w.t.), aku tau…
Diriku belum tentu lebih dekat dari mereka yang saat ini ingin menyimpang . Mereka mungkin dapat lakukan sesuatu yang lebih untuk dapat menjadi lebih dekat dengan-Mu setelah ini. Namun biarkan aku melakukan sesuatu yang lain dari mereka. Aku hanya ingin menggapai ridho-Mu dengan caraku sendiri.

Allah (s.w.t.), la rayba 'alayya…
Aku percaya akan janji-Mu. Tak dapat kutemukan alasan untuk menaruh ragu pada kuasa-Mu. Aku merasa aman di jalan-Mu. Langkah kecil ini, kuyakin tak pernah Kau abaikan. Bukankah telah Kau janjikan, tak akan ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan?

Allah (s.w.t.)… Biarkan aku mempersembahkan sebaik-baik taqwa yang masih mampu kulakukan hari ini. Sebelum waktu yang Kau tetapkan untukku, memaksaku berhenti dan mengakhiri segala kesempatan yang memungkinkanku dapat tetap bertahan dan terus menanam taqwa di ladang dunia ini.

Teguhkanlah hati ini ya Rahiim, agar senantiasa berkiblat lurus menghadap cahaya-Mu.

Allah… aku percaya, rencana-Mu pasti baik untukku.

Sabtu, 22 Februari 2014

KEPOMPONG (PART 1)


Tell me, God! Did she make it with tears? Or with anger?

I know she is disappointed… :’(

Bingung dari mana harus memulai.

Tergambar jelas, dia menulis dengan ribuan keraguan’ “yesterday she is your best friend, but something happened…”

Kemarin, aku adalah sahabatmu.. lalu sekarang, kau anggap apa aku ini?

Sungguh berat, bagaimana bisa diriku kau katakan menjauh. Baiklah, ini memang benar salahku, karena terlalu banyak melukai. Tapi sekalipun, tak pernah ada niatan untuk menjauh darimu, sahabat.

Selama ini mungkin tak banyak kusadari, aku terlalu egois. Mengandalkan diri bisa melangkah sendiri. Tapi dengan begitu, kau pikir aku tak butuh sahabat?

Aku memang tak selalu bisa hadir dalam wujud nyata di sampingmu, sahabat. Tapi sosokmu tak pernah sekalipun berpindah. Tak semudah itu menghapus jejak seorang sahabat. Sahabat yang hanya kutemukan sekali seumur hidup. Menemukanmu, adalah jejak pencarian yang amat panjang. Jadi, jangan kau pikir menjauh darimu adalah kesengajaan.

Kau ingin berbagi denganku? Tertawa dan mengis bersama, seperti kemarin?

Tapi sayangnya, itu bukanlah keinginan sepihak. Bagaimana aku bisa memendam cerita adalah hal yang tak mudah untuk dilakukan. Ternyata sungguh sakit ketika kita merasa sendiri, tak ada bahu untuk menuai cerita luka bahkan suka. Kerap kali masalah yang ingin kubagi denganmu, hanya tertahan dan mengendap menjadi bunga tidur. Kau tau? Itulah hal tersulit dan menyakitkan.
Maci, ini hanya masalah ruang dan waktu. Kumohon, jangan risau. Ikatan itu masih tetap ada. Meski kutemukan namaku berada pada deretan terakhir tingkatan orang-orang yang kau sayang, aku tetap melihatmu sebagai sahabat.
Kembalikanlah naluri persahabatan kita yang dulu, jangan biarkan ini tumbuh menjamur menjadi keputusasaan. Jangan biarkan ikatan ini rapuh dan lapuk.
Percayalah, persahabatan ini adalah anugerah yang indah...